Cetak Sejarah! GAMKI Kota Tasikmalaya Gelar Konfercab Pertama, Kepler Sianturi Nahkodai DPC Perdana
DPC GAMKI Kota Tasikmalaya cetak sejarah gelar Konfercab perdana di Aula Kesbangpol, Kepler Sianturi ditunjuk jadi Ketua DPC, Sabtu (31/10/2026).
Disarankan:
Juag Fiona Sukapura soroti rencana lelang WKP Gunung Galunggung, ingatkan pentingnya jaga warisan leluhur, ekosistem, dan hindari pareumeun obor budaya Sunda.
TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Rencana lelang Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Galunggung memicu atensi publik dan kekhawatiran mendalam terhadap masa depan kawasan yang menyimpan nilai ekologis, historis, spiritual, serta budaya luhur bagi masyarakat Sunda.
Menanggapi isu tersebut, Fiona Euis Tjantiari Callaghan, M.Si., yang dikenal sebagai Juag Fiona Sukapura, menyerukan kepada masyarakat luas untuk bersama-sama menjaga Gunung Galunggung sebagai warisan alam dan leluhur yang menjadi fondasi jati diri masyarakat Tasikmalaya.
Fiona, yang juga menerima nama kehormatan Batari Hyang dari masyarakat adat Kabuyutan Gunung Ringgeung, Garut, memandang amanah budaya tersebut sebagai pengingat moral untuk senantiasa menghormati leluhur, merawat alam, dan mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi penerus.
"Bagi saya, Galunggung bukan sekadar bentang alam atau kawasan yang memiliki potensi sumber daya energi. Galunggung adalah bagian dari akar sejarah, identitas, dan warisan leluhur Sunda yang harus kita jaga bersama. Setiap keputusan mengenai masa depannya perlu dilandasi kebijaksanaan, keterbukaan, dan tanggung jawab antargenerasi," ungkap Fiona.
Pesan Amanat Galunggung: Menjaga Kabuyutan dan Hindari Pareumeun Obor
Dalam naskah Sunda kuno Amanat Galunggung yang memuat nasihat Rakeyan Darmasiksa, ditekankan pentingnya menjaga kesucian kabuyutan, menghormati leluhur, serta mempertahankan tanah air. Pesan-pesan tersebut merumuskan tiga prinsip utama:
* Menjaga kabuyutan agar tidak dikuasai pihak luar: "Cegahlah kabuyutan (tanah yang disucikan) jangan sampai dikuasai orang asing."
* Tanggung jawab moral pemimpin: "Lebih berharga kulit lasun (musang) yang berada di tempat sampah daripada raja putra yang tidak bisa mempertahankan kabuyutan/tanah airnya."
* Menghormati sesama dan berbakti kepada leluhur: "Perilaku yang dilarang, yakni jangan memarahi orang yang tidak bersalah; jangan tidak berbakti kepada leluhur yang telah mampu mempertahankan tanahnya (kabuyutannya) pada zamannya."
Ketiga amanat tersebut menegaskan bahwa tanah leluhur bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan simpul identitas dan kehormatan bangsa.
"Jangan sampai kita begitu sibuk membicarakan nilai ekonomi sebuah kawasan, tetapi lupa menilai apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kita. Amanat leluhur mengajarkan bahwa ada tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan, yaitu menjaga tanah, menghormati kehidupan, dan memastikan warisan tetap dapat diteruskan," tambah Fiona.
Bagi warga Tasikmalaya, Gunung Galunggung merupakan sumber pengetahuan, kesucian, dan kearifan lokal. Fiona mengingatkan agar masyarakat terhindar dari kondisi pareumeun obor, yakni terputusnya hubungan batin dengan sejarah dan asal-usul kebudayaan sendiri.
"Gunung Galunggung adalah sumber kehidupan, pengetahuan, kesucian, dan kearifan lokal. Kalau kita tidak lagi mengenali akar sejarah dan warisan leluhur sendiri, kita bisa mengalami pareumeun obor, kehilangan penerang yang seharusnya membimbing kita memahami jati diri. Masa ketika kita sudah pareumeun obor, gunung yang menjadi bagian penting dari pertahanan budaya Tasikmalaya juga harus kita lelang? Jangan sampai kita kehilangan pijakan budaya hanya karena terlalu berorientasi pada nilai ekonomi," ungkap Fiona.
Soroti Risiko Lingkungan dan Desak Transparansi Kajian WKP
Selain aspek kultural, pengembangan energi panas bumi (geothermal) dinilai menuntut kajian risiko ekologis yang cermat. Eksplorasi infrastruktur dan pengeboran berpotensi memengaruhi tutupan lahan, habitat, kualitas sumber air, memicu kebisingan, emisi gas, hingga potensi seismisitas terinduksi.
Oleh karena itu, Fiona mendorong agar setiap rencana pengembangan energi di Gunung Galunggung wajib berbasis data transparan mengenai kondisi geologi, ekosistem, serta aspirasi masyarakat adat dan lokal.
"Pembangunan energi tidak boleh hanya dilihat dari manfaat yang dijanjikan. Kita juga perlu memahami risiko yang mungkin timbul, siapa yang akan menanggung dampaknya, dan bagaimana perlindungan terhadap alam serta masyarakat akan dijamin. Untuk kawasan yang memiliki nilai sejarah dan budaya seperti Galunggung, kehati-hatian dan keterbukaan harus menjadi bagian mendasar dari pengambilan keputusan," tegas Fiona.
Seruan "Bangun, Bangkit, Berdaya" untuk Jati Diri Sukapura
Melalui gerakan Bangun, Bangkit, Berdaya, Fiona mengajak para sesepuh, pemangku kabuyutan, akademisi, pegiat lingkungan, pemerintah, hingga generasi muda untuk membuka ruang dialog inklusif guna melindungi kelestarian Gunung Galunggung dari ancaman kerusakan ekologis dan hilangnya memori sejarah.
"Sebagai bagian dari masyarakat Sukapura, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur, termasuk menghormati para leluhur yang memiliki akar sejarah dari Galunggung. Kita adalah mata rantai sejarah yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Mata rantai itu tidak boleh terputus, karena ketika kita kehilangan hubungan dengan akar sejarah dan warisan leluhur, kita berisiko kehilangan pijakan budaya yang membentuk jati diri Tasikmalaya. Jika mata rantai sejarah itu terputus, runtuhlah salah satu fondasi identitas dan kebudayaan Tasikmalaya. Karena itu, mari bangun kesadaran, bangkitkan kepedulian, dan berdaya bersama untuk menjaga Galunggung agar tetap lestari bagi generasi mendatang," tegas Fiona.
"Galunggung harus tetap lestari. Jangan sampai kita mewariskan keuntungan sesaat, tetapi kehilangan warisan yang tidak dapat dikembalikan. Warisan leluhur bukan hanya milik kita hari ini, melainkan amanah yang harus kita jaga untuk generasi mendatang," tutupnya.
DPC GAMKI Kota Tasikmalaya cetak sejarah gelar Konfercab perdana di Aula Kesbangpol, Kepler Sianturi ditunjuk jadi Ketua DPC, Sabtu (31/10/2026).
Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud kepedulian insan PLN dalam membantu memenuhi kebutuhan darah masyarakat sekaligus memperkuat semangat solidaritas dan gotong royong.
Meskipun hanya beranggotakan 4 personel untuk mengawasi 43 ribu hektare hutan, Polhutmob KPH Tasikmalaya tetap siaga jaga keamanan kawasan, Sabtu (31/10/2026).