TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Tim dosen bersama sejumlah mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya meluncurkan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dengan Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) di Kampung Cihonje, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, Rabu (17/6/2026) pagi.
Program yang mengusung tema "Pembentukan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) Terintegrasi untuk Penguatan Gizi Keluarga Berisiko Stunting" ini berhasil memperoleh pendanaan hibah BIMA dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Menggandeng Posyandu Melati sebagai mitra utama, inovasi ini membidik optimalisasi pekarangan rumah milik keluarga berisiko stunting guna menjamin ketersediaan pangan bergizi secara mandiri.
Gerakan kemanusiaan ini diketuai oleh Dr. Iseu Siti Aisyah, S.P., M.Kes., dengan beranggotakan Andhy Romdani, S.T., M.Eng., Ph.D., dan Aulia Putri Wahyuningtyas, S.Gz., M.Gz. Tim dosen juga dibantu oleh lima mahasiswa Unsil, yakni Mayang Amadea Putri Suhenda, Dwi Mulyasari, Hilmi Najwan Ramadhani, Vaneza Suryana Putri, dan Regina Nuroktapiani.
Ketua Tim PkM, Dr. Iseu Siti Aisyah, menjelaskan bahwa pemilihan Kampung Cihonje didasarkan pada tingginya angka kasus anak stunting serta hasil riset mendalam yang telah ia lakukan sebelumnya di wilayah tersebut.
"Penelitian saya sebelumnya menemukan bahwa masalah stunting di Kelurahan Karanganyar berkaitan erat dengan rendahnya ketersediaan pangan bergizi, terutama sumber protein hewani yang krusial untuk mendukung pertumbuhan anak," ujar Iseu, Rabu (17/6/2026).
Konsep KRPL Terintegrasi ini menerapkan sistem pertanian terpadu (integrated farming system). Di area pekarangan, warga diajak membudidayakan ayam petelur, ayam potong, ikan lele, serta menanam aneka sayuran dan buah-buahan. Kunci keberlanjutan siklus ini terletak pada penggunaan komposter untuk mengolah sampah organik rumah tangga.
"Sampah sisa dapur diolah menjadi pakan alternatif ayam dan ikan lele. Hasil komposnya digunakan untuk pupuk sayuran, sedangkan air lindinya dimanfaatkan sebagai nutrisi penyubur tanaman. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu terus-menerus membeli pakan dan pupuk," terangnya.
Dalam program ini, ayam petelur diposisikan sebagai komoditas utama. Berdasarkan rujukan ilmiah, konsumsi satu butir telur per hari secara konsisten terbukti efektif mencegah dan mengatasi balita stunting.
Iseu menegaskan pihaknya tidak sekadar menyerahkan stimulus bantuan fisik, melainkan berkomitmen mengawal program lewat pendampingan bertahap dari hulu hingga hilir, termasuk dalam hal pengolahan pascapanen.
"Merawat tanaman, ikan, dan ayam itu tidak mudah. Agar program bertahan jangka panjang, kami berikan pendampingan intensif. Warga juga akan dilatih mengolah hasil panen ikan menjadi produk bernilai tambah dan disukai anak-anak, seperti nugget dan sosis lele," tambahkan Iseu.
Melalui intervensi gizi berbasis edukasi ini, tim Unsil menargetkan dapat menekan prevalensi stunting di Karanganyar yang semula bertengger di angka 21% agar bisa turun melampaui target nasional, yakni di bawah 14%.
Langkah solutif ini disambut hangat oleh Ketua Posyandu Melati, Dede Oting. Ia mengakui inovasi dari sivitas akademika Unsil ini sangat tepat sasaran dalam memberikan bekal ilmu dan stimulan protein siap pakai bagi warga.
Dede memaparkan, kondisi stunting di wilayah RW 02 Kampung Cihonje memang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data posyandu terbaru, tercatat ada 13 anak balita yang masuk dalam kategori berat badan kurang (underweight) dan gizi kurang.
"Selain balita, di RW 02 ini juga ada dua ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) karena lingkar lengan kurang dari standar, dari total sembilan ibu hamil yang ada. Kami berharap kehadiran program ayam petelur dan lele dari Unsil ini bisa efektif mengentaskan stunting di wilayah kami," pungkas Dede.