Ikuti Kami :

Disarankan:

Kisah Aun, Penarik Becak di Tasikmalaya yang Masih Sepi Penumpang Usai Terima Bantuan Becak Listrik Presiden

Jumat, 11 September 2026 | 12:29 WIB
Kisah Aun, Penarik Becak di Tasikmalaya yang Masih Sepi Penumpang Usai Terima Bantuan Becak Listrik Presiden
Kisah Aun, Penarik Becak di Tasikmalaya yang Masih Sepi Penumpang Usai Terima Bantuan Becak Listrik Presiden. Foto: Kristian.

Aun (61), penarik becak asal Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, mengungkapkan bahwa bantuan becak listrik dari Presiden yang diserahkan Wali Kota Viman Alfarizi Ramadhan pada Selasa (8/9/2026) belum memberikan dampak signifikan terhadap pendapatannya yang masih sepi penumpang.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Aun (61), warga Kampung Citapen Kidul, Kelurahan Empangsari, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, menjadi salah satu penarik becak yang beruntung menerima bantuan becak listrik dari Presiden Republik Indonesia.

Ia menerima bantuan tersebut bersama 219 penarik becak lainnya pada Selasa (8/9/2026), yang diserahkan secara simbolis oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan.

Kendati demikian, usai menerima becak listrik tersebut, Aun mengaku belum merasakan dampak peningkatan pendapatan maupun jumlah penumpang. Bahkan, pada Rabu lalu dirinya hanya mengangkut satu orang penumpang.

"Belum ada peningkatan signifikan dari sebelumnya, masih sama sepi. Hari Rabu saja baru dapat satu. Hari Kamis saya tidak kerja," kata Aun saat ditemui di lokasi mangkalnya di pertigaan Jalan Tentara Pelajar, Jumat (11/9/2026) pagi.

Pada Jumat pagi, Aun mulai memicu becak listriknya sejak pukul 07.30 WIB. Namun hingga pukul 10.57 WIB, ia belum mengantongi uang satu rupiah pun. "Hari ini belum, belum dapat satu penumpang pun," tutur Aun dengan mata berkaca-kaca.

Pria yang dikaruniai tujuh anak ini telah mengayuh becak konvensional sejak 1996 demi menafkahi keluarganya. Selama tiga dekade di jalanan, tarif yang ia patok sangat fleksibel tergantung jarak tempuh.

"Kalau ongkos bagaimana jarak, kadang ada yang bayar Rp5.000 ya saya tarik kalau memang jaraknya terjangkau. Kalau menawar, takutnya malah diambil oleh penarik becak lain," ungkapnya.

Di tengah sepinya jasa becak, Aun terpaksa melakoni pekerjaan sampingan sebagai buruh bangunan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, sang istri turut membantunya dengan bekerja sebagai buruh cuci pakaian di rumah tetangga.

"Tidak dari becak saja, kalau ada yang minta tolong perbaiki genteng, saya kerjakan. Karena harus ada uang yang dibawa ke rumah," ujar Aun.

Beban hidup Aun kian terasa karena ia masih menanggung biaya pendidikan anak bungsumunya yang kini duduk di kelas 1 SMP. Dari tujuh anaknya, dua di antaranya telah meninggal dunia, tiga sudah menikah, dan satu anak lainnya belum bekerja.

"Apalagi saya masih punya anak yang sekolah kelas 1 SMP. Di tengah kondisi seperti ini bagi saya berat, masih ada yang harus dibiayai sekolahnya," ucapnya penuh haru.

Mengenai unit becak listrik yang diterimanya, Aun mengapresiasi kualitas kendaraan tersebut yang dinilainya jauh lebih nyaman. Namun, ia mengaku masih menyimpan kekhawatiran saat harus mengangkut penumpang ke rute yang jauh.

"Kalau malam dapat penumpang jauh, takut baterainya habis di jalan karena ini pakai listrik. Jadi memang baterainya harus benar-benar diisi daya secara teratur," pungkas Aun.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement