CIAMIS, NewsTasikmalaya.com — Kekalahan telak PSGC Ciamis dari PSS Sleman dengan skor 0-6 dalam lanjutan kompetisi Liga 2 di Stadion Maguwoharjo, Rabu (4/11/2026), memicu kekecewaan mendalam bagi CEO PSGC Ciamis, Herdiat Sunarya.
Hasil minor tersebut bahkan sempat membuat Herdiat berniat melayangkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai pimpinan klub berjuluk Laskar Singacala itu. Namun, setelah menerima arahan dari manajemen pusat, ia memutuskan untuk tetap bertahan dan berkomitmen memimpin perbaikan total tim.
Pernyataan tersebut disampaikan Herdiat dalam sesi konferensi pers yang digelar di Stadion Galuh Ciamis, Kamis (5/11/2026). Ia mengaku kecewa bukan semata-mata karena PSGC menelan kekalahan, melainkan karena performa di atas lapangan yang dinilai jauh dari standar harapan.
Herdiat memahami bahwa PSGC memiliki level kompetisi yang berbeda dengan PSS Sleman. Kendati demikian, ia menyayangkan kekalahan tersebut terjadi akibat skema permainan yang tidak menunjukkan pola dan kedisiplinan taktik.
"Saya bukan tidak siap menerima kekalahan, tetapi para pemain seolah-olah bermain tidak dengan hati. Kelihatan mainnya tanpa pola," ujar Herdiat, Kamis (5/11/2026).
Ia secara khusus menyoroti ketidakdisiplinan taktik skuad PSGC usai salah satu pemain diganjar kartu merah pada babak pertama. Dalam kondisi tertinggal jumlah pemain, seharusnya seluruh penggawa lebih mengutamakan pengamanan lini belakang dan menjaga keseimbangan formasi.
Namun, menurut Herdiat, para pemain justru tetap meladeni permainan terbuka dan memaksakan menyerang, sehingga meninggalkan ruang kosong yang leluasa dieksploitasi oleh lini serang PSS Sleman.
Bahkan, ia menilai jumlah gol ke gawang PSGC berpotensi bertambah jika penjaga gawang tidak jatuh bangun melakukan penyelamatan gemilang di bawah mistar.
Herdiat juga membandingkan grafik permainan Laskar Singacala musim ini dengan musim sebelumnya saat masih berlaga di kasta ketiga, di mana konsistensi dan determinasi tim dinilai jauh lebih stabil.
Dua Asisten Pelatih Mundur dan Rencana Evaluasi Menyeluruh Jelang Bursa Transfer
Puncak kekecewaan tersebut sempat mendorong Herdiat menyampaikan niat mundur kepada manajemen pusat sesaat usai pertandingan di Sleman.
Namun, pada Kamis pagi sekitar pukul 08.00 WIB, manajemen pusat memberikan respons tegas dengan menolak pengunduran diri tersebut dan meminta Herdiat terus melanjutkan estafet kepemimpinan klub.
"Alhamdulillah, tadi pagi ada jawaban dari manajemen pusat. Saya tidak boleh mundur. Mari kita sama-sama bekerja keras membangun PSGC agar lebih baik dan lebih berkembang lagi, terutama memperbaiki mental para pemain," katanya.
Di tengah upaya pembenahan ini, Herdiat turut mengumumkan pengunduran diri dua asisten pelatih PSGC, yakni Eka Ramdani dan Boy Jati Asmara. Manajemen pusat telah menyetujui surat pengunduran diri keduanya usai mendampingi tim selama kurang lebih empat hingga lima bulan.
Herdiat menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan kerja keras yang telah dicurahkan Eka dan Boy selama membersamai Laskar Singacala.
"Saya sangat menghormati dedikasi dan perjuangan mereka. Terima kasih kepada Pak Eka dan Pak Boy atas kebersamaan serta kerja kerasnya untuk membangun PSGC agar lebih baik," ungkapnya.
Untuk sementara waktu, posisi juru taktik utama tetap dipegang oleh Heri Kiswanto, yang juga akan disiapkan sebagai pelatih sementara sembari manajemen berburu sosok asisten pelatih anyar yang sevisi. Herdiat menyebut manajemen terbuka mengkaji sejumlah kandidat pelatih lokal maupun luar daerah, termasuk peluang mendekati pelatih berpengalaman seperti Nilmaizar, meski keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen pusat.
Selain merombak jajaran pelatih, evaluasi ketat juga menyasar para pemain. Manajemen masih memberikan masa percobaan bagi seluruh skuad hingga dibukanya jendela bursa transfer paruh musim pada 2 Januari 2027 mendatang. Artinya, para pemain memiliki rentang waktu sekitar enam pekan untuk membuktikan kelayakan mereka berseragam PSGC.
Manajemen pusat sendiri telah menyiapkan rencana penambahan lima pemain baru di bursa transfer nanti, yang meliputi kombinasi pemain lokal berkualitas maupun pemain asing.
Guna menjamin objektivitas penilaian, PSGC mulai mengintegrasikan teknologi pemantauan fisik berbasis rompi sensor (GPS tracker) saat sesi latihan maupun pertandingan. Perangkat ini merekam data akurat mulai dari jarak tempuh, kecepatan maksimal, jumlah sprint, hingga detak jantung pemain.
"Jadi tidak bisa dibohongi. Mana yang kondisi fisiknya sudah lemah, mana yang malas, tidak mau sprint atau hanya berjalan, semuanya bisa terlihat karena ada rekamannya," jelas Herdiat.
Di akhir keterangannya, Herdiat menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada masyarakat serta kelompok suporter setia Ciamis atas hasil minor yang diraih, sembari memohon doa agar Laskar Singacala lekas bangkit dan kompetitif pada putaran berikutnya.
"Manajemen menyampaikan permohonan maaf kepada teman-teman semua. Kami tetap memohon dukungan dan yang lebih penting lagi doa agar PSGC semakin membaik," pungkasnya.