Ikuti Kami :

Disarankan:

Ryan Metika Prasetyo, Rimbawan Muda yang Merawat Hutan dan Menjaga Masa Depan Indonesia

Rabu, 28 Oktober 2026 | 12:44 WIB
Ryan Metika Prasetyo, Rimbawan Muda yang Merawat Hutan dan Menjaga Masa Depan Indonesia
Ryan Metika Prasetyo, Rimbawan Muda yang Merawat Hutan dan Menjaga Masa Depan Indonesia. Foto: Istimewa

Hutan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengelolanya, tetapi juga generasi yang memahami nilai kehidupan di dalamnya.

Irman Bastaman - Rimbawan Muda Perum Perhutani

 

SEMANGAT Sumpah Pemuda tidak hanya hidup dalam sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga tumbuh melalui pengabdian generasi muda di berbagai bidang kehidupan.

Di sektor kehutanan, semangat tersebut menemukan maknanya dalam tanggung jawab menjaga kelestarian alam, membangun hubungan harmonis dengan masyarakat, dan memastikan sumber daya hutan tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang. 

Nilai-nilai itulah yang menjadi relevan dalam perjalanan Ryan Metika Prasetyo, rimbawan muda kelahiran 1992 yang mengabdikan diri melalui Perum Perhutani.

Bagi Ryan, menjadi rimbawan bukan semata-mata tentang bekerja di kawasan hutan atau menjalankan tugas pengelolaan sumber daya alam. Profesi ini merupakan bagian dari tanggung jawab yang lebih luas, yakni menjaga keseimbangan antara kelestarian lingkungan, keberlanjutan manfaat ekonomi, dan kepentingan sosial masyarakat. 

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, tanggung jawab tersebut menuntut generasi muda untuk memiliki pengetahuan, integritas, ketangguhan, serta kemampuan membangun kolaborasi.

Lahir pada 1992, Ryan tumbuh dalam generasi yang mengalami peralihan dari kehidupan yang serba konvensional menuju era digital yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang begitu cepat. 

Perubahan tersebut menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan cara kerja yang lebih adaptif. Dalam dunia kehutanan, perkembangan teknologi dapat mendukung pengumpulan data, pemetaan kawasan, dokumentasi kegiatan, pemantauan lingkungan, dan komunikasi dengan masyarakat. Namun, pemanfaatannya tetap harus disertai pemahaman terhadap kondisi lapangan serta prinsip pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.

Perjalanan pengabdian Ryan di lingkungan Perum Perhutani membawanya pada tanggung jawab pengelolaan wilayah hutan. Ia pernah bertugas sebagai Asisten Perhutani/Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (Asper/KBKPH) Cisalak di KPH Bandung Utara sebelum kemudian tercatat bertugas di KPH Tasikmalaya. Peran tersebut berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan hutan di tingkat wilayah, koordinasi dengan jajaran petugas lapangan, serta hubungan kerja dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang rimbawan dalam memahami bahwa kelestarian hutan membutuhkan kerja bersama dan konsistensi jangka panjang.

Patriotik: Mencintai Indonesia Melalui Pengabdian

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum untuk kembali memahami arti patriotisme dalam kehidupan masa kini. Jika para pemuda pada 1928 menyatukan tekad untuk membangun identitas kebangsaan, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk meneruskan semangat tersebut melalui kontribusi nyata sesuai bidang pengabdiannya.

Bagi seorang rimbawan, patriotisme dapat diwujudkan melalui upaya menjaga hutan, mendukung rehabilitasi kawasan yang memerlukan pemulihan, mencegah kerusakan lingkungan, dan membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keberlanjutan sumber daya alam. Cinta tanah air tidak selalu ditunjukkan melalui tindakan besar yang menjadi perhatian publik. Ia juga hadir dalam kedisiplinan menjalankan tugas, keteguhan menjaga integritas, serta kesediaan melakukan pekerjaan yang manfaatnya mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian.

Hutan memiliki peran strategis dalam menopang kehidupan. Keberadaannya berkaitan dengan tata air, perlindungan tanah, penyimpanan karbon, habitat berbagai jenis flora dan fauna, serta sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, menjaga hutan berarti turut menjaga fondasi ekologis pembangunan Indonesia.

Dalam perspektif tersebut, pengabdian rimbawan memiliki dimensi kebangsaan yang kuat. Hasil pekerjaannya tidak hanya berkaitan dengan kepentingan suatu wilayah atau organisasi, tetapi juga dengan keberlanjutan lingkungan yang menjadi bagian dari masa depan bangsa. Setiap upaya menjaga hutan merupakan investasi jangka panjang bagi masyarakat yang hidup saat ini maupun generasi yang belum lahir.

Patriotisme juga menuntut keberanian untuk menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas keuntungan sesaat. Pengelolaan hutan harus dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku, daya dukung lingkungan, kepentingan masyarakat, dan keberlanjutan manfaatnya. Dengan demikian, semangat cinta tanah air tidak berhenti pada simbol, tetapi tercermin dalam keputusan dan tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Gigih: Menjalani Proses dan Menjaga Konsistensi

Hutan mengajarkan bahwa sesuatu yang bernilai membutuhkan proses. Sebuah pohon tidak tumbuh besar dalam satu malam. Ia memerlukan waktu, kondisi yang mendukung, dan perawatan yang berkelanjutan. Filosofi tersebut memiliki kesamaan dengan perjalanan pengabdian seorang rimbawan, yang harus terus belajar, beradaptasi, dan menyelesaikan tanggung jawab di tengah dinamika pekerjaan.

Kegigihan tidak berarti bahwa setiap tantangan harus dihadapi dengan cara yang sama. Sebaliknya, kegigihan menuntut kemampuan mengevaluasi keadaan, memperbaiki pendekatan, dan menemukan solusi yang lebih tepat. Dalam pengelolaan hutan, tantangan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari ancaman kebakaran, gangguan keamanan hutan, perubahan kondisi lingkungan, hingga kebutuhan membangun kesepahaman dengan masyarakat.

Rimbawan muda dituntut untuk tidak hanya mengandalkan semangat, tetapi juga memperkuat kapasitas profesional. Pengetahuan teknis, kemampuan komunikasi, penguasaan teknologi, serta pemahaman terhadap aspek sosial dan hukum menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan kehutanan yang semakin kompleks.

Di lingkungan kerja, kegigihan juga tercermin dalam kesediaan untuk mendengar pengalaman para senior dan belajar dari praktik yang telah berjalan. Pada saat bersamaan, generasi muda perlu berani mengembangkan gagasan baru selama didasarkan pada pertimbangan yang matang dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perpaduan pengalaman dan pembaruan menjadi penting agar pengelolaan hutan tidak terjebak dalam rutinitas, tetapi terus berkembang sesuai kebutuhan. Semangat inovasi harus berjalan beriringan dengan disiplin, integritas, dan kepatuhan terhadap aturan.

Bagi Ryan dan generasi rimbawan seusianya, perjalanan karier dapat menjadi ruang untuk terus memperkuat kompetensi sekaligus memperluas kontribusi. Ukuran keberhasilan bukan semata-mata jabatan yang diemban, melainkan juga kualitas pekerjaan, kemampuan bekerja sama, serta manfaat yang dapat diberikan bagi kelestarian hutan dan masyarakat.

Berempati: Menempatkan Masyarakat sebagai Mitra

Kelestarian hutan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Hubungan antara manusia dan hutan telah berlangsung lama, membentuk pola penghidupan, pengetahuan lokal, serta berbagai praktik sosial yang berkembang dari generasi ke generasi.

Karena itu, pengelolaan hutan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga memahami kebutuhan dan kondisi masyarakat. Empati menjadi dasar untuk membangun komunikasi yang terbuka, mendengarkan aspirasi, dan mencari solusi yang memperhatikan kepentingan bersama.

Bagi rimbawan muda, berempati berarti memahami bahwa masyarakat bukan sekadar penerima informasi atau pelaksana kegiatan. 

Masyarakat merupakan mitra yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Hubungan yang dibangun melalui kepercayaan dan komunikasi yang baik dapat memperkuat partisipasi masyarakat dalam berbagai program kehutanan.

Empati juga berarti menyadari bahwa persoalan lingkungan sering kali berhubungan dengan persoalan ekonomi. Oleh sebab itu, upaya menjaga kelestarian hutan perlu disertai pendekatan pemberdayaan yang sesuai dengan potensi wilayah, ketentuan yang berlaku, dan prinsip keberlanjutan.

Pengembangan hasil hutan bukan kayu, agroforestri, ekowisata yang bertanggung jawab, serta penguatan kapasitas kelompok masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan kepentingan pelestarian dengan peningkatan kesejahteraan. Pelaksanaannya tentu memerlukan perencanaan yang baik, pendampingan, dan evaluasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Dalam konteks ini, rimbawan muda dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan kehutanan, kebutuhan masyarakat, dan inovasi pembangunan. Kemampuan mendengarkan sama pentingnya dengan kemampuan memberikan penjelasan. Sebab, solusi yang baik tidak selalu lahir dari satu pihak, tetapi sering kali ditemukan melalui proses dialog dan kerja sama.

Rimbawan Muda di Tengah Perubahan Zaman

Generasi muda saat ini menghadapi dunia kerja yang semakin dinamis. Perkembangan teknologi, perubahan iklim, tuntutan transparansi, serta meningkatnya perhatian terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola mendorong organisasi untuk terus beradaptasi.

Sektor kehutanan pun menghadapi kebutuhan untuk memperkuat tata kelola, meningkatkan kualitas data, memperluas edukasi lingkungan, serta membangun kemitraan yang produktif. Dalam situasi tersebut, generasi muda memiliki kesempatan untuk memberikan kontribusi melalui keterampilan digital, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan keterbukaan terhadap pendekatan baru.

Namun, perubahan tidak boleh dimaknai sebagai keharusan meninggalkan seluruh cara lama. Pengalaman lapangan dan kearifan lokal tetap menjadi sumber pengetahuan yang penting. Teknologi dapat membantu meningkatkan efektivitas pekerjaan, tetapi tidak menggantikan kebutuhan untuk memahami keadaan nyata di lapangan.

Rimbawan muda perlu mengembangkan kemampuan untuk memadukan keduanya. Pengetahuan teknis harus diperkuat dengan pemahaman sosial. Inovasi harus didukung integritas. Kecepatan kerja perlu diimbangi ketelitian. Sementara itu, keberanian menyampaikan gagasan harus disertai kesediaan menerima masukan.

Kualitas tersebut akan membantu membangun budaya kerja yang lebih adaptif sekaligus menjaga nilai-nilai profesionalisme. Generasi muda tidak harus menunggu menduduki jabatan tertentu untuk memberikan kontribusi. Perbaikan kecil dalam proses kerja, penyampaian gagasan yang konstruktif, dokumentasi yang lebih baik, dan komunikasi yang efektif juga dapat menjadi bagian dari inovasi.

Menjembatani Generasi, Meneruskan Pengabdian

Salah satu tantangan penting dalam pembangunan adalah memastikan bahwa pengetahuan dan pengalaman tidak terputus ketika terjadi pergantian generasi. Dalam pengelolaan hutan, pengalaman para senior memiliki nilai penting karena terbentuk melalui interaksi panjang dengan kondisi alam, masyarakat, dan berbagai persoalan di lapangan.

Di sisi lain, generasi muda membawa perspektif baru yang dapat membantu organisasi membaca perubahan dan merespons kebutuhan masa depan. Kedua hal tersebut seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan dipertemukan dalam hubungan kerja yang saling menghargai.

Semangat Sumpah Pemuda mengingatkan bahwa kekuatan bangsa lahir dari kemampuan menyatukan perbedaan untuk mencapai tujuan bersama. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam lingkungan kerja: pengalaman menjadi pijakan, inovasi menjadi penggerak, dan integritas menjadi pedoman.

Bagi rimbawan muda, menghormati senior bukan berarti berhenti mengembangkan gagasan. Sebaliknya, keberanian berinovasi juga tidak berarti mengabaikan pengalaman. Keduanya dapat berjalan bersama melalui dialog, pembelajaran, dan kolaborasi.

Dengan cara tersebut, regenerasi tidak hanya menjadi pergantian personel, tetapi juga proses pewarisan nilai, peningkatan kapasitas, dan pembaruan cara kerja.

Hasilnya diharapkan tidak hanya memperkuat organisasi, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Menanam Hari Ini, Memanen Manfaat untuk Generasi Mendatang

Salah satu karakteristik pengabdian di bidang kehutanan adalah panjangnya rentang waktu antara tindakan dan manfaat yang dihasilkan. Pohon yang ditanam hari ini membutuhkan waktu untuk tumbuh. Kawasan yang dipulihkan memerlukan proses ekologis yang tidak singkat. Kesadaran masyarakat terhadap lingkungan pun dibangun melalui edukasi dan keteladanan yang dilakukan secara konsisten.

Hal tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu harus dinilai dari hasil yang langsung terlihat. Ada pekerjaan yang manfaatnya baru dapat dirasakan setelah bertahun-tahun, bahkan oleh generasi yang tidak pernah bertemu dengan orang-orang yang memulainya.

Bagi rimbawan, kesadaran tersebut menjadi dasar untuk memandang pekerjaan secara lebih luas. Tanggung jawab hari ini tidak hanya berhubungan dengan target tahunan, tetapi juga dengan kualitas lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, menjaga hutan membutuhkan cara berpikir jangka panjang. Keputusan yang diambil harus mempertimbangkan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi secara seimbang. 

Program yang dilaksanakan perlu memperhatikan keberlanjutan, bukan hanya pencapaian sesaat. Sementara itu, partisipasi masyarakat perlu diperkuat agar upaya pelestarian memiliki dukungan yang luas.

Semangat ini sejalan dengan nilai patriotik, gigih, dan berempati. Patriotik mendorong pengabdian kepada bangsa, gigih menjaga konsistensi dalam proses, sedangkan empati memastikan bahwa manfaat pembangunan tetap memperhatikan kehidupan manusia dan keberlanjutan alam.

Sumpah Pemuda sebagai Komitmen Masa Depan

Hari Sumpah Pemuda ke-98 Tahun 2026 bukan sekadar kesempatan untuk mengenang sejarah, melainkan momentum untuk mengevaluasi kontribusi generasi muda terhadap masa depan Indonesia. Semangat persatuan perlu diwujudkan dalam tindakan yang relevan dengan tantangan zaman, termasuk melalui pengabdian di bidang kehutanan.

Perjalanan Ryan Metika Prasetyo sebagai rimbawan muda Perum Perhutani KPH Tasikmalaya menjadi bagian dari gambaran bahwa pembangunan bangsa dapat dijalankan melalui berbagai jalur profesi. Ada yang berkontribusi melalui pendidikan, kesehatan, teknologi, pertanian, pelayanan publik, dan ada pula yang menjalankan pengabdian melalui upaya menjaga hutan serta mendukung keberlanjutan lingkungan.

Tidak semua pengabdian harus terlihat besar untuk memiliki arti. Ketekunan menjalankan tugas, kemauan meningkatkan kemampuan, kepedulian terhadap masyarakat, dan tanggung jawab menjaga alam merupakan bagian dari kontribusi yang membangun masa depan secara bertahap.

Pada akhirnya, menjadi pemuda Indonesia bukan tentang membuktikan bahwa generasi sekarang lebih hebat daripada generasi sebelumnya. Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana setiap generasi dapat melanjutkan hal-hal baik, memperbaiki kekurangan, dan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi generasi berikutnya.

Sebagai rimbawan muda, tanggung jawab itu diwujudkan melalui komitmen menjaga hutan, memperkuat kolaborasi, dan terus belajar menghadapi perubahan. Sebab, masa depan kehutanan tidak hanya ditentukan oleh luasnya kawasan yang dikelola, tetapi juga oleh kualitas tata kelola, integritas sumber daya manusia, serta kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.

Hutan tidak hanya membutuhkan orang yang mampu mengelolanya, tetapi juga generasi yang memahami nilai kehidupan di dalamnya. Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang berani bermimpi, tetapi juga pemuda yang bersedia bekerja, peduli, dan bertanggung jawab atas masa depan.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98, 28 Oktober 2026

Patriotik dalam pengabdian, gigih dalam perjuangan, dan berempati dalam tindakan. Bersama menjaga hutan, bersama merawat Indonesia.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin