TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Tasikmalaya (DKKT) bersiap menggelar perhelatan akbar Kibar Budaya 2026. Festival budaya ini akan dipusatkan di Kampung Situ Beet, Kelurahan Cipari, Kecamatan Mangkubumi, pada Jumat (25/7/2026) mendatang.
Festival ini digagas sebagai ruang apresiasi, edukasi, sekaligus kolaborasi nyata. Tujuan utamanya adalah untuk memantik kembali perhatian publik serta pengambil kebijakan terhadap potensi dan tantangan berat yang kini dihadapi oleh sentra kerajinan anyaman bambu lokal.
Ketua DKKT, Tatang Pahat, menjelaskan bahwa festival ini akan menyuguhkan beragam sajian menarik. Mulai dari pertunjukan seni tradisi, musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga kreasi seni khas masyarakat Mangkubumi.
Melalui gelaran ini, DKKT juga menargetkan Kibar Budaya 2026 sebagai wadah strategis bagi generasi muda untuk mengenal, mencintai, dan meneruskan nilai-nilai budaya lokal yang mulai luntur.
"Kebudayaan tidak hanya hidup di festival atau pameran. Ia akan bertahan jika ada kebijakan yang berpihak kepada pelaku budaya dan lingkungan yang menopangnya," ujar Tatang pada Jumat (17/7/2026) pagi.
Tatang memaparkan, pemilihan Kampung Situ Beet sebagai episentrum kegiatan bukan tanpa alasan. Kampung bersejarah ini menyimpan warisan budaya bernilai tinggi yang kini terancam punah dan perlu segera diselamatkan.
Dulu, Situ Beet dikenal luas sebagai sentra kerajinan anyaman bambu yang menjadi urat nadi perekonomian keluarga sekaligus salah satu identitas budaya Kota Tasikmalaya. Namun, laju pembangunan yang masif dan perubahan zaman membuat keberlangsungan tradisi adiluhung ini berada di ujung tanduk.
"Situ Beet adalah simbol bahwa menjaga anyaman bambu berarti menjaga pengetahuan dan ingatan kolektif masyarakat Tasikmalaya," tegas Tatang.
Berdasarkan analisis DKKT, persoalan utama yang dihadapi para perajin saat ini adalah menipisnya ketersediaan bahan baku bambu akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman. Rumpun-rumpun bambu yang dulu melimpah ruah, kini kian langka.
"Akibatnya, perajin harus mendatangkan bahan baku dari luar daerah dengan biaya lebih tinggi. Hal ini sangat berdampak langsung pada keberlanjutan usaha mereka," terangnya.
Tantangan tersebut diperparah oleh mandeknya proses regenerasi. Minat generasi muda di wilayah tersebut untuk menekuni profesi sebagai perajin anyaman bambu tergolong sangat rendah. Minimnya nilai ekonomi yang dihasilkan serta pergeseran orientasi kerja membuat mayoritas pemuda lebih memilih profesi modern lainnya.
Oleh karena itu, Tatang menegaskan bahwa upaya penyelamatan anyaman bambu membutuhkan intervensi dan dukungan yang menyeluruh dari hulu ke hilir. Mulai dari jaminan ketersediaan bahan baku, kemudahan akses pembiayaan, penguatan jejaring pemasaran, inovasi desain produk, hingga integrasi kurikulum pendidikan budaya bagi generasi muda.
"Pelestarian budaya tidak cukup dengan ajakan mencintai tradisi. Harus ada ekosistem yang memberi kesejahteraan bagi pelakunya," pungkas Tatang.