Ikuti Kami :

Disarankan:

Banyak Kios Tutup, Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Harus Beradaptasi Hadapi Perubahan Pola Belanja

Senin, 19 Januari 2026 | 10:02 WIB
Watermark
Banyak Kios Tutup, Pasar Cikurubuk Tasikmalaya Harus Beradaptasi Hadapi Perubahan Pola Belanja. Foto: NewsTasikmalaya.com/Tian K

Pasar Cikurubuk Tasikmalaya tengah menghadapi tantangan serius seiring perubahan pola belanja masyarakat. Sejumlah kios dan los di pasar tradisional terbesar di Kota Tasikmalaya itu dilaporkan tutup atau berhenti beroperasi.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com - Pasar Cikurubuk Tasikmalaya tengah menghadapi tantangan serius seiring perubahan pola belanja masyarakat. Sejumlah kios dan los di pasar tradisional terbesar di Kota Tasikmalaya itu dilaporkan tutup atau berhenti beroperasi.

Pengamat Ekonomi Tasikmalaya, Amir Mahmud, mengungkapkan bahwa dari total 2.772 kios dan los yang tersedia di Pasar Cikurubuk, hampir 1.000 unit atau sekitar 30 persen kini tidak lagi beroperasi. Kondisi tersebut mencerminkan tekanan besar yang dihadapi pasar tradisional akibat pergeseran perilaku konsumen.

Menurut Amir, fenomena ini tidak hanya terjadi di Tasikmalaya, melainkan juga dialami sejumlah pasar besar di Indonesia, termasuk Pasar Tanah Abang, Jakarta. Perubahan pola belanja masyarakat yang kini lebih memilih platform daring menjadi faktor utama menurunnya aktivitas pasar.

“Pasar Cikurubuk hari ini mirip dengan kondisi Tanah Abang beberapa waktu lalu. Banyak kios gulung tikar bukan semata karena regulasi atau kondisi fisik, tetapi karena perubahan pola belanja masyarakat,” ujar Amir, Senin (19/1/2026).

Selain pergeseran ke belanja online, Amir menilai kondisi fisik pasar juga turut memperparah keadaan. Akses jalan, kenyamanan, hingga fasilitas penunjang yang kurang optimal membuat pengunjung enggan datang, sehingga omzet pedagang menurun drastis.

“Namun penyebab paling besar tetap pergeseran ke belanja daring, yang dinilai lebih praktis, cepat, dan mudah dibandingkan datang langsung ke pasar,” jelasnya.

Ia menambahkan, belanja online kini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat karena memudahkan konsumen membandingkan harga serta menyediakan beragam metode pembayaran, mulai dari transfer, dompet digital (e-wallet), hingga sistem bayar di tempat atau cash on delivery (COD).

Tak hanya itu, gaya hidup generasi saat ini yang cenderung lebih nyaman beraktivitas dari rumah juga berpengaruh besar. “Banyak yang memilih tetap di rumah tapi kebutuhan tetap terpenuhi, termasuk membeli produk fashion tanpa harus ke pasar,” tambah Amir.

Kondisi tersebut, lanjut Amir, menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan pasar tradisional. Jika pedagang dan pengelola pasar tidak segera melakukan adaptasi dan inovasi, aktivitas ekonomi lokal yang selama ini menjadi denyut nadi masyarakat berpotensi terus tertinggal.

Ia pun mendorong para pedagang untuk mulai memanfaatkan platform digital, meningkatkan kualitas pelayanan, serta lebih kreatif dalam melakukan promosi agar tetap mampu bersaing.

Di sisi lain, Amir menegaskan pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam menyelamatkan Pasar Cikurubuk. Perbaikan infrastruktur seperti jalan, area parkir, serta peningkatan keamanan dinilai mendesak untuk dilakukan.

“Pasar tradisional bukan hanya tempat jual beli. Ia juga menjadi pusat interaksi sosial, budaya, dan identitas lokal. Karena itu, semua pihak perlu bekerja sama agar pasar tetap hidup,” pungkasnya.

 

 

 

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement