Ikuti Kami :

Disarankan:

Hadapi Ancaman Bencana Musim Hujan, Polres dan Pemkab Ciamis Perkuat Kesiapsiagaan Lintas Instansi

Rabu, 04 November 2026 | 11:14 WIB
Hadapi Ancaman Bencana Musim Hujan, Polres dan Pemkab Ciamis Perkuat Kesiapsiagaan Lintas Instansi
Hadapi Ancaman Bencana Musim Hujan, Polres dan Pemkab Ciamis Perkuat Kesiapsiagaan Lintas Instansi. Foto: Febrian Libelvalen.

Polres dan Pemkab Ciamis gelar apel siaga bencana libatkan 510 personel gabungan, petakan wilayah rawan longsor dan banjir, Rabu (4/11/2026).

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ciamis bersama jajaran TNI-Polri serta unsur instansi terkait memperkuat langkah kesiapsiagaan guna mengantisipasi potensi ancaman bencana alam seiring masuknya musim penghujan. Sebanyak 450 personel kepolisian dan sekitar 60 personel TNI disiagakan penuh untuk mengamankan berbagai titik rawan di wilayah Kabupaten Ciamis.

Apel siaga bencana gabungan ini digelar secara khidmat di halaman Mako Polres Ciamis, Rabu (4/11/2026), dengan melibatkan lintas sektoral. Kegiatan ini menjadi instrumen penting untuk memastikan kesiapan fisik personel, ketersediaan sarana prasarana (alsintan), serta soliditas koordinasi antar-instansi dalam menghadapi potensi darurat bencana alam.

Kapolres Ciamis, AKBP Eko Iskandar, menegaskan bahwa apel siaga ini merupakan wujud komitmen kolektif jajaran forum koordinasi pimpinan daerah (forkopimda) dalam meningkatkan mitigasi dini menghadapi musim penghujan.

Menurut Eko, seluruh pihak tentu berharap Kabupaten Ciamis senantiasa diberikan keselamatan dan terhindar dari bencana. Kendati demikian, harapan tersebut wajib diimbangi dengan kesiapsiagaan taktis di lapangan.

"Kita berharap tidak ada terjadi bencana alam di Kabupaten Ciamis. Kita semua berdoa. Namun, kita juga tidak boleh underestimate. Oleh karena itu, pagi ini bersama unsur terkait kita melaksanakan pengecekan dan apel kesiapsiagaan," ujar Eko usai memimpin apel, Rabu (4/11/2026).

Eko memaparkan, ancaman hidrometeorologi yang paling diwaspadai selama musim hujan meliputi tanah longsor, banjir bandang, serta terjangan angin puting beliung. Dari sejumlah potensi tersebut, pergerakan tanah atau tanah longsor menjadi perhatian khusus menyusul mulai terdeteksinya sejumlah kejadian di lapangan.

Bahkan, sebelumnya sempat dilaporkan adanya rumah warga yang mengalami kerusakan parah pada bagian dapur akibat dipicu oleh pergeseran kontur tanah. Kondisi ini menjadi pengingat krusial untuk meningkatkan patroli pengawasan di kawasan rawan bencana.

Sebagai langkah pencegahan teknis, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis telah memasang perangkat alat pemantau pergerakan tanah (ekstensometer) di sejumlah titik prioritas sebagai sistem peringatan dini (early warning system).

Dalam penanganan di lapangan, Eko menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang tidak hanya bertumpu pada TNI dan Polri, melainkan melibatkan BPBD, Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, hingga jejaring relawan tanggap bencana guna mempercepat proses evakuasi dan respon darurat.

Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan evakuasi atau hendak melaporkan kondisi darurat di wilayahnya, dapat memanfaatkan layanan darurat terpadu Call Center Kepolisian di nomor 110, ambulans gawat darurat 119, maupun layanan darurat Pemkab Ciamis di nomor 112.

Pemetaan Wilayah Rawan dan Program Desa Tanggap Bencana

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ciamis, Andang Firman Triyadi, mengungkapkan bahwa Pemkab Ciamis telah merampungkan pemetaan rinci (mapping) terhadap kawasan-kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana pergerakan tanah, banjir, dan angin kencang.

Untuk potensi pergerakan tanah, beberapa kecamatan yang masuk zona atensi meliputi Kecamatan Sukamantri, Panumbangan, Panjalu, Panawangan, Rajadesa, Tambaksari, Pamarican, hingga Banjaranyar. Sementara kawasan yang diwaspadai terhadap ancaman luapan banjir meliputi Kecamatan Purwadadi, Pamarican, Lakbok, serta Kecamatan Panumbangan yang kerap mengalami genangan serupa.

Andang menyebutkan, berdasarkan catatan data kebencanaan daerah, tercatat telah terjadi sekitar 18 insiden pergerakan tanah di Ciamis, di mana beberapa titik longsor masih ditemukan kendati wilayah tersebut sebelumnya dilanda musim kemarau panjang.

"Alhamdulillah kita punya petanya. BPBD juga sudah melatih desa-desa tanggap bencana. Kurang lebih ada 135 desa yang sudah mendapatkan pelatihan," ujar Andang.

Menurut Andang, pemetaan wilayah risiko dan penguatan kapasitas masyarakat melalui pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) menjadi pilar utama mitigasi. Dengan pelatihan tersebut, warga di zona merah diharapkan mampu mengenali gejala awal alam (early recognition) serta sigap mengambil tindakan penyelamatan mandiri.

Selain kesiapsiagaan struktural, Pemkab Ciamis turut menggalakkan gerakan pembuatan lubang biopori di pekarangan warga guna mendongkrak daya serap air hujan ke dalam perut bumi sekaligus menjaga cadangan akuifer air tanah.

Di samping itu, Pemkab Ciamis terus berkoordinasi intensif dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) guna merampungkan normalisasi alur sungai di sejumlah titik rawan pendangkalan.

Rangkaian apel siaga ini kemudian ditutup dengan kegiatan pengecekan fisik kesiapan kendaraan taktis, alat pelindung diri (APD), serta kelengkapan peralatan evakuasi oleh Kapolres Ciamis bersama Sekda Ciamis dan Kepala Pelaksana BPBD Ciamis.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin