Ikuti Kami :

Disarankan:

Satu Dekade Berstatus Warisan Budaya Takbenda, Bupati Herdiat Tegaskan Tradisi Nyangku Jadi Pijakan Teladan Karuhun

Senin, 07 September 2026 | 14:56 WIB
Satu Dekade Berstatus Warisan Budaya Takbenda, Bupati Herdiat Tegaskan Tradisi Nyangku Jadi Pijakan Teladan Karuhun
Satu Dekade Berstatus Warisan Budaya Takbenda, Bupati Herdiat Tegaskan Tradisi Nyangku Jadi Pijakan Teladan Karuhun.

Pelaksanaan Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026 di kawasan Situ Lengkong, Kabupaten Ciamis, berlangsung khidmat pada Senin (7/9/2026).

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com — Ribuan masyarakat dan wisatawan memadati kawasan Situ Lengkong, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, untuk mengikuti rangkaian Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026, Senin (7/9/2026). Gelaran tahunan ini menjadi sarana menghidupkan kembali jejak sejarah, budaya, serta nilai-nilai keislaman Tatar Galuh.

Tahun ini, penyelenggara mengusung tema "Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun".

Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, menegaskan bahwa Tradisi Nyangku memiliki dimensi makna yang jauh lebih luas dari sekadar seremoni kebudayaan rutin. Menurutnya, ritual ini merupakan wahana meneladani rekam jejak kebaikan para leluhur Panjalu.

"Kehadiran tradisi ini adalah untuk menelusuri dan meneladani jejak kebaikan para karuhun (leluhur), yang kemudian kita jadikan pijakan dalam menata kehidupan masa kini dan masa mendatang," ujar Herdiat, Senin (7/9/2026).

Herdiat menambahkan, sejak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2017 silam, Tradisi Nyangku telah menjadi bagian integral dari kekayaan khazanah budaya nasional yang wajib dijaga lintas generasi.

"Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Panjalu dan Kabupaten Ciamis, melainkan kekayaan khazanah budaya bangsa yang wajib kita lestarikan dan wariskan kepada generasi mendatang," tegasnya.

Rangkaian acara diawali dengan prosesi tawasul, disusul pengarakan benda pusaka dari Bumi Alit menyeberangi Situ Lengkong menuju Nusa Gede. Setelah ritual di panggung utama, termasuk pedaran sejarah Panjalu oleh Rd. Agus Gusnawan Cakradinata dan sambutan dari Yayasan Borosngora oleh Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata, puncak acara ditandai dengan Gelar Pusaka (Ngabersihan Pusaka) yang diiringi lantunan solawat.

Rangkaian kegiatan diakhiri dengan prosesi Ngabralkeun atau penyimpan kembali benda-benda pusaka ke tempat asalnya di Bumi Alit.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Herdiat menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada segenap panitia, Yayasan Borosngora, unsur Forkopimda, serta masyarakat Panjalu atas semangat gotong royong dalam menjaga nilai-nilai luhur dan kebersamaan selama acara berlangsung.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement