Subuh Keliling di Masjid Al Hidayah SPBU Cikurubuk, Polres Tasikmalaya Kota Perkuat Silaturahmi dengan Warga
Polres Tasikmalaya Kota menggelar Subuh Keliling di Masjid Al Hidayah, Cikurubuk, Sabtu (24/10/2026).
Disarankan:
Ketua PC GP Ansor Kota Tasikmalaya Bubung Nizar menegaskan predikat Kota Santri tidak boleh sebatas slogan pada diskusi publik HSN 2026 di PCNU, Jumat (23/10/2026).
TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com — Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Tasikmalaya memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2026 bukan sekadar sebagai ajang seremonial, melainkan ruang refleksi kritis terhadap arah kebijakan pembangunan daerah.
Melalui perhelatan istigasah dan diskusi publik bertajuk "Refleksi Hari Santri: Menakar Arah Pembangunan Kota Santri" yang digelar di Aula PCNU Kota Tasikmalaya, Jumat (23/10/2026) malam, GP Ansor mendesak agar nilai-nilai kesantrian benar-benar terimplementasi dalam kebijakan publik, bukan sebatas klaim identitas.
Ketua PC GP Ansor Kota Tasikmalaya, Bubung Nizar, menegaskan bahwa predikat "Kota Santri" yang selama ini melekat pada Kota Tasikmalaya harus dibuktikan secara konkret lewat produk kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil.
"Jangan sampai Kota Santri hanya menjadi identitas dan slogan yang terus digaungkan setiap tahun, tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tidak tercermin dalam arah pembangunan," kata Bubung, Jumat (23/10/2026) malam.
Menurut Bubung, spirit kesantrian harus hadir nyata dalam wujud tata kelola pemerintahan yang adil, pemihakan terhadap masyarakat bawah, serta optimalisasi kualitas pelayanan publik.
Ia menilai, peringatan Hari Santri tidak cukup dirayakan dengan upacara atau kegiatan simbolis belakangan ini. Momen HSN harus dijadikan sarana evaluasi kritis untuk menilai apakah nilai pengabdian, kemandirian, kepedulian sosial, dan keadilan telah menjadi ruh utama penyelenggaraan pemerintah daerah.
Bubung juga menekankan bahwa keberhasilan pembangunan tidak boleh diukur secara sempit dari pertumbuhan ekonomi makro dan megaproyek fisik semata, melainkan dari aspek pemerataan, tingkat kesejahteraan, kualitas layanan publik, serta keterbukaan ruang partisipasi warga.
"Kalau kita berbicara tentang Kota Santri pertanyaannya sederhana, apakah masyarakat sudah merasakan keadilan, kesejahteraan, dan pelayanan yang baik. Identitas religius harus punya konsekuensi dalam kebijakan. Jangan sampai nilai-nilai yang kita banggakan justru berhenti pada simbol dan narasi," tegasnya.
Ikhtiar Spiritual, Kritik Membangun, dan Kolaborasi Semua Elemen
Melalui forum diskusi publik tersebut, GP Ansor berinisiatif membuka ruang dialog yang sehat dan konstruktif antara jajaran pemerintah daerah, kalangan pesantren, pemuda, akademisi, hingga elemen masyarakat sipil. Ia meminta agar kritik publik dimaknai sebagai wujud kepedulian, bukan bentuk permusuhan.
"Cinta terhadap kota bukan berarti kita harus diam terhadap persoalan yang ada, justru karena peduli, kita perlu berani bertanya, mengkritisi, dan memberikan masukan agar pembangunan berjalan lebih baik," ungkapnya.
Di samping itu, perhelatan istigasah yang digelar bersamaan dimaknai sebagai ikhtiar spiritual yang berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial untuk mengawal jalannya roda pemerintahan.
"Kami berharap refleksi Hari Santri ini menjadi pengingat bahwa membangun Kota Santri membutuhkan kolaborasi semua elemen, agar nilai kesantrian benar-benar hidup dan terwujud dalam keadilan sosial, kesejahteraan, dan kemanusiaan sehari-hari," pungkasnya.
Polres Tasikmalaya Kota menggelar Subuh Keliling di Masjid Al Hidayah, Cikurubuk, Sabtu (24/10/2026).
Melalui program Pesantren Connect 2026, peserta dibekali keterampilan public speaking dan manajemen organisasi.
Program ini merupakan bagian dari sistem jemput bola yang diterapkan untuk mendekatkan pelayanan publik ke tengah masyarakat.