Ikuti Kami :

Disarankan:

Harga Telur di Ciamis Anjlok ke Rp20 Ribu per Kg, Peternak Tertekan Biaya Pakan yang Terus Naik

Kamis, 09 Juli 2026 | 15:15 WIB
Watermark
Harga Telur di Ciamis Anjlok ke Rp20 Ribu per Kg, Peternak Tertekan Biaya Pakan yang Terus Naik. Foto: NewsTasikmalaya.com/Febrian Libelvalen

Peternak ayam petelur yang tergabung dalam Koperasi P2APC di Dusun Cikebot, Kabupaten Ciamis, menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur hingga Rp20.000 per kilogram.

CIAMIS, NewsTasikmalaya.com – Peternak ayam petelur di Kabupaten Ciamis tengah menghadapi situasi sulit. Harga telur di tingkat peternak mengalami penurunan drastis hingga menyentuh angka Rp20.000 per kilogram, sementara biaya produksi, khususnya pakan ternak, justru terus meningkat.

Kondisi tersebut dirasakan para peternak yang tergabung dalam Koperasi P2APC di Dusun Cikebot, Desa Muktisari, Kabupaten Ciamis. Mereka kini harus berjuang mempertahankan usaha di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat ketidakseimbangan antara harga jual dan biaya operasional.

Ketua Badan Pengawas Koperasi P2APC, Endang Kusnadi, mengatakan harga telur saat ini berada jauh di bawah harga normal yang sebelumnya berkisar antara Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram.

“Per hari ini harga telur dari kandang sekitar Rp20.000 per kilogram. Dengan harga tersebut sebenarnya kami masih harus mensubsidi biaya produksi karena belum mampu menutupi biaya operasional, terutama pakan,” ujar Endang.

Menurutnya, biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan juga mengalami kenaikan. Jika sebelumnya harga pakan berada di kisaran Rp6.800 per kilogram, kini meningkat menjadi sekitar Rp7.100 per kilogram.

Kenaikan biaya tersebut membuat margin keuntungan peternak semakin tergerus. Bahkan dalam kondisi saat ini, koperasi diperkirakan harus menanggung kerugian hingga sekitar Rp2 juta setiap hari agar aktivitas peternakan tetap berjalan.

“Selama harga telur berada di bawah harga keekonomian, kami harus menanggung kekurangan biaya. Saat ini kerugiannya bisa mencapai sekitar Rp2 juta per hari,” katanya.

Peternak Pilih Bertahan

Meski menghadapi tekanan yang cukup berat, para peternak memilih untuk tetap mempertahankan usaha mereka. Berbagai strategi efisiensi dilakukan agar roda produksi tetap berjalan, salah satunya dengan melakukan afkir atau pengurangan populasi ayam produktif lebih awal guna menekan biaya pemeliharaan.

Endang mengakui bahwa kondisi serupa sebenarnya bukan kali pertama terjadi. Namun, situasi saat ini dinilai cukup berat karena penurunan harga berlangsung di tengah kenaikan biaya produksi.

“Yang penting saat ini kami bisa bertahan. Berbagai cara dilakukan agar usaha tetap berjalan, termasuk mengurangi populasi ayam yang sudah tidak produktif,” ujarnya.

Saat ini, Koperasi P2APC memiliki sekitar 10.000 ekor ayam petelur yang masih aktif berproduksi. Selain itu, terdapat sekitar 3.500 ekor ayam regenerasi yang belum memasuki masa produksi, tetapi tetap membutuhkan biaya pakan dan perawatan.

Menurut Endang, keberadaan ayam regenerasi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan produksi telur di masa mendatang. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi beban tambahan ketika harga telur sedang rendah.

Produksi Capai 25 Ton per Hari

Dari sekitar 10.000 ekor ayam produktif yang dimiliki koperasi, produksi telur mencapai sekitar 5 kuintal per hari. Sementara secara keseluruhan, populasi ayam petelur milik anggota koperasi di Dusun Cikebot diperkirakan mencapai 450 ribu hingga 500 ribu ekor.

Jumlah tersebut mampu menghasilkan sekitar 25 ton telur setiap harinya yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Meski produksi tetap tinggi, lemahnya daya serap pasar membuat harga telur sulit kembali ke level normal. Para peternak menilai salah satu faktor yang turut memengaruhi kondisi tersebut adalah menurunnya permintaan pasar dalam beberapa waktu terakhir.

Berharap Dukungan Program MBG

Endang menyebut salah satu faktor yang diduga memengaruhi penurunan permintaan telur adalah berkurangnya penyerapan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sebelumnya menjadi salah satu pasar potensial bagi peternak.

“Sebelumnya penyerapan telur cukup baik. Sekarang permintaan sedikit melemah. Kemungkinan karena pasokan telur di pasaran melimpah dan aktivitas dapur MBG sedang berkurang sehingga harga ikut turun,” jelasnya.

Para peternak berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur di tingkat produsen. Mereka juga berharap telur dapat lebih sering masuk dalam menu Program Makan Bergizi Gratis agar hasil produksi peternak terserap lebih optimal.

“Kalau menu telur bisa disajikan dua sampai tiga kali dalam seminggu pada program MBG, tentu akan sangat membantu penyerapan produksi peternak. Kami juga berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga agar usaha peternakan rakyat tetap bertahan,” pungkasnya.

 

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement