Ikuti Kami :

Disarankan:

Kue Bandros, Camilan Khas Tradisional yang Bertahan di Tasikmalaya, Miliki Tekstur Lembut dan Gurih

Kamis, 09 Juli 2026 | 15:18 WIB
Kue Bandros, Camilan Khas Tradisional yang Bertahan di Tasikmalaya, Miliki Tekstur Lembut dan Gurih
Kue Bandros, Camilan Khas Tradisional yang Bertahan di Tasikmalaya, Miliki Tekstur Lembut dan Gurih. Foto: Kristian.

Kue bandros, camilan tradisional khas Jawa Barat dengan perpaduan rasa gurih dan legit, hingga kini masih bertahan menjadi primadona kuliner di kawasan Jalan HZ Mustofa, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.

TASIKMALAYA, NewsTasikmalaya.com – Aroma harum kelapa parut yang dipanggang di atas cetakan besi panas seketika menggugah selera saat melintas di pusat pertokoan Kota Tasikmalaya. Aroma khas tersebut berasal dari kue bandros, jajanan tradisional legendaris khas Jawa Barat berbahan dasar adonan tepung beras, santan, dan kelapa parut murni yang hingga kini masih menjadi primadona kuliner di hati masyarakat tatar Sukapura.

Kue tradisional ini menyuguhkan sensasi rasa yang unik dengan perpaduan gurih dan legit. Karakteristik utamanya terletak pada tekstur bagian luar yang garing kecokelatan, sementara bagian dalamnya tetap terasa lembut dan lumer di lidah. Kuliner warisan leluhur ini dinilai sangat cocok untuk dinikmati sebagai teman santai, baik pada pagi hari maupun sore hari, ditemani secangkir kopi atau teh hangat.

Bagi masyarakat Kota Tasikmalaya yang ingin bernostalgia dengan cita rasa autentik ini, salah satu lapak yang paling ramai dikunjungi terletak di kawasan pedestrian Jalan HZ Mustofa, Kecamatan Cihideung. Di lokasi strategis tersebut, seorang pedagang tangguh bernama Dedi (60) setia melayani pembeli di balik kepulan asap pemanggangan bandrosnya. Dedi menjadi salah satu saksi hidup kuliner tradisional yang mampu bertahan kokoh di tengah maraknya gempuran makanan modern kekinian.

Setiap hari, pria paruh baya ini mulai menggelar dagangannya sejak pukul 08.00 WIB. Dedi mengungkapkan bahwa rahasia kelezatan bandros miliknya terletak pada takaran kelapa yang royal agar rasa gurihnya keluar secara maksimal. "Bahan adonannya sama saja, cuma kalau kurang kelapa rasanya agak tidak enak," kata Dedi saat ditemui di kawasan Jalan HZ Mustofa pada Kamis (9/7/2026) pagi.

Untuk memenuhi permintaan pelanggan setiap harinya, Dedi meracik adonan tepung beras sebanyak 4 kilogram yang dikombinasikan dengan kelapa parut segar sebanyak 2 kilogram. Rekam jejak Dedi di dunia kuliner jalanan terbilang luar biasa karena dirinya sudah mulai berjualan di pusat kota jauh sebelum wilayah administratif Tasikmalaya dimekarkan menjadi Kota dan Kabupaten. "Sudah jualan lama, puluhan tahun ada, jualan diam saja di sini, gak kemana-mana," ucap Dedi mengenang masa lalunya.

Mengenai harga, Dedi mematok tarif yang sangat bersahabat bagi kantong semua kalangan. Satu buah kue bandros hangat ia hargai seribu rupiah, namun ia menyediakan paket ekonomis khusus untuk para pelanggannya. "Ada yang 1.000 per biji, kalau bapak Rp 5.000 dapat 7 biji. Kadang habis, kadang ada sisanya," tutur pria ramah tersebut.

Meski omzet pendapatannya tidak menentu dan adonan yang dibawanya kadang bersisa, pria yang berdomisili di Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya ini mengaku sangat bersyukur. Berkat ketekunan dan tetesan keringatnya berjualan kue bandros selama puluhan tahun, Dedi berhasil menuntaskan kewajibannya sebagai kepala keluarga dengan mengantarkan keempat buah hatinya mengenyam pendidikan formal yang layak.

"Alhamdulillah anak semua sekolah, sampai SMK dari hasil jualan ini," pungkas Dedi dengan rona bahagia di wajahnya.

Dilarang menyalin atau menayangkan ulang isi artikel ini, baik sebagian maupun seluruhnya, untuk konten media sosial komersial maupun media lainnya tanpa persetujuan redaksi NewsTasikmalaya.com.
Editor
Konten berikut adalah iklan platform MGID. Newstasikmalaya.com tidak terkait dengan materi konten ini.
Link Disalin
advertisement